Teknik Layanan Referral

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Referal
Kegiatan referal atau alih tangan yaitu kegiatan pendukung BK untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik atau konseli dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini memerluak kerjasama yang erat antara berbagai pihak yang dapat memberiak bantuan dan atas penanganan masalah tersebut (terutama kerja sama dari ahli lain tempat kasus itu dialih tangankan). Kegiatan ini menuntut agar pelayanan Bimbingan dan Konseling tidak hanya dirasakan adanya pada waktu siswa mengalami masalah dan menghadap pada konselor saja, namun usaha Bimbingan dan Konseling hendaknya diarasakan juga manfaatnya sebelum dan sesudah siswa menjalani layanan Bimbingan dan Konseling secara langsung. Kegiatan referal menunjuk pada azas alih tangan kasus yaitu azas Bimbingan Konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik mengalih tangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli.
Kegiatan alih tangan kasus meliputi dua jalur, yaitu jalur kepada konselor dan jalur dari konselor. Jalur kepada konseor, dalam arti konselor menerima “kiriman” konseli dari pihak-pihak lain, seperti orang tua, kepala sekolah, guru, pihak atau ahli lain (misalnya dokter, psikiater, psikolog, kepala suatu kantor aau perusahaan). Sedangkan jalur dari konselor, dalam arti konselor “mengirimkan” konseli yang belum tuntas ditangani kepada ahli-ahli lain, seperti konselor yang lebih senior, konselor yang membidangi spesialisasi tertentu, ahli-ahli lain (msalnya guru bidang studi, psikolog, psikiater, dan dokter). Konselor menerima konseli dari pihak lain dengan harapan konseli itu dapat ditangani sesuai dengan permasalahan konseli yang belum atau tidak tuntas ditangani oleh pihak lain itu; atau permasalahan konseli itu tidak sesuai dengan bidang keahlian pihak yang mengirimkan konseli itu. Di sisi lain, konselor mengalih tangankan konseli kepada pihak lain apabila masalah yang dihadapi konseli memang diluar kewenangan konselor untuk menanganinya, atau setelah konselor berusaha sekuat tenaga memberikan bantuan, namun permasalahan konseli belum berhasil ditangani secara tuntas.
Pada sisi yang pertama, yaitu konselor menerima konseli dari pihak lain, berkenaan dengan prosedur alih tangan, hampir tidak ada persoalan yang memerlukan perhatian khusus, kecuali masalah kesukarelaan. Konseli yang dikirimkan kepada konselor itu hendaknya dengan sukarela datang kepada konselor. Dengan kesukarelaan itulah konselor akan bekerja bersama konseli itu menangani permasalahannya. Pada sisi yang kedua, yaitu konselor mengalihtangankan konseli, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, khususnya tentang kepada siapa konseli akan dialihtangankan, kesediaan konseli, dan materi atau informasi tentang konseli yang hendaknya disampaikan kepada pihak lain tempat alih tangan. Dalam kaitan itu, Cormier & Bernard (1982) mengemukakan beberapa praktik yang salah yang hendaknya tidak ilakukan konselor dalam kegiatan alih tangan, yaitu :
1. Konseli tidak diberi alternatif pilihan kepada ahli mana ia akan dialihtangankan,
2. Konselor mengalihtangankan konseli kepada pihak yang keahliannya diragukan, atau kepada ahli yang reputasinya kurang dikenal,
3. Konselor membicarakan permasalahan konseli kepada calon ahli tempat alih tangan tanpa persetujuan konseli,
4. Konselor menyebutkan nama konseli kepada calon ahli tempat alih tangan.
Butir-butir tersebut diatas mengisyaratkan apa-apa yang hendaknya tidak dilakukan dan apa yang hendaknya dilakukan oleh konelor dalam pengalihtanganan konseli.

B. Tujuan Referal
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari alih tangan kasus adalah diperolehnya pelayanan yang optimal, setuntas mungkin, atas masalah yang dialami konseli.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus berkaitan dengan fungsi-fungsi konseling yaitu:
a) Fungsi pengentasan: tenaga ahli yang menjadi arah referal diminta memberikan pelayanan yang secara spesifik lebih menuntaskan pengentasan masalah konseli.
b) Fungsi pemahaman: untuk memahami masalah yang sedang dihadapi konseliguna pengentasan.
c) Fungsi pencegahan: Merupakan dampak positif yang diharapkan dari referal untuk menghindari masalah yang lebih pelik lagi.
d) Fungsi pengembangan dan pemeliharaan: Dengan terentaskannya masalah berbagai potensi dapat terpelihara dan terkembang.
e) Fungsi advokasi: Berhubungan dengan masalah klien berkenaan dengan terhambatnya hak-hak konseli.

Secara umum, referal juga bertujuan untuk:
1. Membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya.
2. Membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
3. Membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin.
4. Membantu siswa mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin.
Pengembangan potensi dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan meliputi tiga tahapan, yaitu:
• Pemahaman dan kesadaran (awareness)
• Sikap dan penerimaan (accommodation)
• Keterampilan dan tindakan (action)

C. Fungsi Layanan Referal
Fungsi layanan referal yaitu:
• Memberikan bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah, yang memerlukan pertolongan dengan segera
• Fungsi perbaikan
• Fungsi penyembuhan

D. Komponen dalam Referal
Penyelenggaraan referal melibatkan tiga komponen pokok, yaitu:
1. Klien dengan Masalahnya
Tidak semua masalah dapat dialih tangankan, untuk itu perlu dikenali masalah-masalah apa saja yang menjadi kewenangan konselor. Seperti masalah-masalah berkenaan dengan:
• Penyakit, baik penyakit fisik ataupun mental (kejiwaan)
• Kriminilitas, dengan segala bentuknya.
• Psikotropika, yang didalamnya dapat terkait masalah kriminilitas dan penyakit.
Apabila konselor mengetahui bahwa konseli secara substansial berkenaan dengan salah satu atau lebih dari tersebut diatas, konselor harus mengalihtangankannya ke ahli lain yang berwenang. Namun bila berkenaan dengan kekhawatiran takut terkena penyakit atau guna-guna, hal ini menjadi kewenangan konselor untuk menanganinya. Bila berkenaan dengan masalah kriminal, siapapun yang mengetahuinya harus segera melapor ke pihak yang berwenang. Dalam hal ini konselor hanya menangani klien yang masalah kriminalnya telah diproses oleh pihak yang berwajib dan yang lainnya.
2. Konselor
Dalam menangani konseli, hal-hal yang perlu dikenali secara langsung oleh konselor, bahwa hanya konseli yang normal saja yang ditangani konselor, diluar itu dialih tangankan kepada ahlinya. Untuk dapat mengalihtangankan konseli dengan baik, konselor dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai tentang para ahli yang dapat menjadi arah referal beserta nama dan alamatnya.
3. Ahli lain
Lima ahli lain perlu dipahami oleh konselor sebagai arah referal, yaitu dokter, psikiater, psikolog, guru, dan ahli lain dalam bidang tertentu.
• Dokter, adalah ahli yang menangani berbagai penyakit jasmaniah
• Psikiater, adalah ahli yang menangani penyakit psikis
• Psikologi, adalah ahli yang mendeskripsikan kondisi psikis
• Guru, termasuk dosen, adalah ahli dalam mata pelajaran atau bidang keilmuan tertentu.
• Ahli bidang tertentu, adalah mereka yang menguasai bidang-bidang tertentu, seperti adat, agama, budaya tertentu, dan hukuman, serta ahli lain pengembangan pribadi yang memerlukan kebutuhan khusus kepada ahli-ahli tersebut itulah klien dialihtangankan sesuai dengan permasalahannya. Pihak yang berwenang seperti polisi, tidak termasuk kedalam pihak yang menjadi arah alih tangan kasus, sebab masalah kriminal yang harus dilaporkan kepada polisi bukanlah alih tangan kasus, melainkan merupakan kewajiban semua warga.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Referal (Rujukan atau Alih Tangan) terjadi Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis. Dalam kegiatan referal juga terdapat pendekatan dan tekniknya yang harus difahami oleh konselor agar dalam proses pelaksanaan referal tidak terjadi permasalahan yang tidak di inginkan oleh subjek yang masuk dalam komponen-komponek dalam kegiatan referal.

2. Saran
Dengan beberapa materi tersebut di atas, penulis menyarankan kita sebagai manusia supaya mampu menempatkan diri kita dalam situasi apapun dan supaya bisa menyadari mana yang bisa menunjang pada kebaikan dri kita dan orang lain, terutama orang yang membutuhkan bantuan kita. Namun bukan semata-mata kita membantu untuk menjalankan profesi namun jiwa penolong itu kita tumbuhkan dalam mencapai kehidupan yang sejahtera.
Penulis menyadari bahwa isi dan penulisan dari makalah ini jauh dari kata sempurna. Penulis juga sangat mengharapkan masukan yang berupa kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini untuk ke depannya.

DAFTAR RUJUKAN

1. Surya, Muhamad. 1988. Dasar – Dasar Penyuluhan (Konseling). Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
2. Santoso, Djoko Budi. 2009. Dasar – Dasar Bimbingan dan Konseling. Malang : tanpa penerbit
3. Prayitno.2009. Dasar – Dasar Bimbingan dan Konseling edisi 2. Jakarta : Rineka Cipta
4. http://fi3fa.blogspot.com/2012/05/kegiatan-referal.html
5. http://ngindianazulvi.blogspot.com/2011/02/kegiatan-referal-alih-tangan-kasus.html
6. http://dwiendyne.blogspot.com/2012/

oleh :
Aditya Warman
Arda Nurdihansyah
Hanif Mu’alifah
Riki Anggrian

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
Februari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: