Teori Belajar Behaviorisme

Classical conditioning

teori ini di pelopori oleh Ivan Petrovich Pavlop,

Classical Conditioning memandang bahwa Aktivitas oranisme itu berupa berupa reflek. aktivitas yang tidak di sadari oleh organisme yang bersangkutan. reflek terjadi karena ada stimulus yang bergerak mendekati organisme tersebut

Eksperimen Pavlop yang terkenal adalah menggunakan anjing. Dalam percobaan tersebut pertama kala makanan (US) mengakibatkan anjing mengeluarkan air liur (UCR), aktivitas kedua kala bel di dekatkan, anjing tidak mengeluarkan air liur, aktivitas ke tiga anjing  di bunyikan bel (CS)  dengan di ikuti makanan (UCS) dan ternyata anjing mengeluarkan air liur percobaan tersebut di ulang berkali – kali, dan aktivitas 4 anjing hanya di berikan suara bel (CS), anjing akan mengeluarkan air liur (CR)

dari hasil eksperimen diatas bahwa belajar merupakan perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulis dengan Respons

Operant Conditioning

Teori ini dikembangkan oleh B. Frederick Skiner

Dalam teori ini respon yang terejadi pada individu terjadi tanpa didahului oleh stimulis melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcement/penguatan (S→R→ S^).

Eksperimenya mengunakan tikus yang dimasukan dalam kotak yang kemudian dikenal dengan “Skinner Box”. awalnya tikus tersebut bergerak kesana kemari mencakar – cakar didnding dan sebagainya. kemudian pergerakan tikus tersebut menekan tombol makanan yang tela disediakan dan keluar makanan tersebut (reinforcement), aktivitas tersebut di sukai oleh tikus sehingga tikus tersebut mengulangi berkali kali aktivitas tersebut

Prinsip-prinsip operant conditioning

  1. Penguatan (reinforcement) baik penguatan positif maupun penguatan negatif
  2. Hukuman (Punishment)

jadi proses belajar merupakan hubungan antara stimulus dengan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku

Koneksionisme

Teori Koneksionisme ditemukan oleh Edward L. Thorndrike berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thondike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing mengetahui fenomena belajar.

Dalam eksperimen tersebut kucing dimasukan ke puzzle box. kucing tersebut berlari kesana kemari menemukan jalan keluar dari puzzle box tersebut, kucing tersebut mencoba menelusuri jalan – jalan  yang ada di ruang tersebut. tapi secara kebetulan kucing tersebut menemukkan jalan keluar dari puzzle tersebut

Dalam percobaan tersebut mengemukaan beberapa hukum :

  1. Law of readness
  2. law of exercise
  3. Law Of Effect

Teori kognitif sosial

Teori kognitif sosial, yang dikembangkan oleh Albert  Bandura, didasarkan atas proposisi bahwa baik proses sosial  maupun proses kognitif adalah sentral bagi  pemahaman  mengenai motivasi, emosi, dan tindakan manusia.

Menurut Bandura, walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan meramalkan perubahan perilaku, namun prinsip tersebut harus memperhatikan dua fenomena penting yang diabaikan oleh paradigma behaviorisme, yaitu:

  1. Manusia dapat berpikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri
  2. Banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi individu dengan individu lainnya Dampaknya, teori kepribadian yang memadai harus memperhitungkan konteks sosial dimana tingkah laku itu di peroleh dan dipelihara.

Beberapa pembelajaran dalam teori social learning kognitif:

  1. Observational Learning
  2. Self Management (Manajemen Diri)
  3. Self Instructional (Instruksi Diri)

 

About Mr. Arda

I'm single and very happy

Posted on 25 Januari 2014, in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: