LAYANAN KONSELING INDIVIDU

A.    Definisi

Konseling individu terjadi ketika seorang konselor bertemu secara pribadi dengan seorang siswa untuk tujuan konseling. Ini adalah interaksi antara konselor dan konseli dimana banyak yang berpikir bahwa ini adalah esensi dari pekerjaan konselor.

Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien). Langsung unduh file DOC LAYANAN KONSELING INDIVIDU

Konseling individu merupakan bentuk layanan yang paling utama dalam peaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Dengan demikian konseling perorangan merupakan “jantung hati”. Implikasi lain pengertian “jantung hati” adalah apabila seorang konselor telah menguasai dengan baik apa, mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (memahami, menghayati dan menerapkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka diharapkan ia dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya tanpa mengalami banyak kesulitan.

Banyak peserta didik yang tidak mau membicarakan masalah pribadi atau urusan pribadi mereka dalam diskusi kelas dengan guru. Beberapa dari mereka ragu untuk berbicara di depan kelompok-kelompok kecil. Oleh karena itu, konseling individu dalam sekolah-sekolah, tidak terlepas dari psikoterapi, didasarkan pada asumsi bahwa konseli itu akan lebih suka berbicara sendirian dengan seorang konselor.

Selain itu, kerahasiaan, selalu dianggap sebagai dasar konseling. Akibatnya, muncul asumsi bahwa siswa membutuhkan pertemuan pribadi dengan seorang konselor untuk mengungkapkan pikiran mereka dan untuk meyakinkan bahwa pengungkapan mereka akan dilindungi. Tidak ada yang lebih aman daripada konseling individu.

Konseling individu sebagai intervensi mendapatkan popularitas dari pemikiran teoritis dan filosofis yang menekankan penghormatan terhadap nilai individu, perbedaan, dan hak-hak. Hubungan konseling bersifat pribadi. Hal ini memungkinkan beberapa jenis komunikasi yang berbeda terjadi antara konselor dan konseli, perlindungan integritas dan kesejahteraan konseli dilindungi.

Konseling telah dianggap sangat rumit, dengan setiap kata, infleksi sikap, dan keheningan yang dianggap penting,yang hanya bisa terjadi antara konselor yang terampil dan konseli yang berminat. Bersama-sama mereka mencari makna tersembunyi di balik perilaku. Seperti pemeriksaan pribadi memerlukan sikap permisif dan kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide secara mendalam, di bawah pengawasan ketat dari konselor. Selama bertahun-tahun, telah diasumsikan bahwa pengalaman ini hanya bisa terjadi dalam interaksi antara dua orang.

Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini ada berbagai macam, yang pada dasarnya tidak terbatas. Layanan ini dlilaksanakan untuk seluruh masalah peserta didik secara perrangan (dalam berbagai bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier).

B.     Tujuan Konseling Individu

Tujuan dari layanan konseling individu dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:

1.      Tujuan Umum

Tujuan umum layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang dialami klien. Apabila masalah klien itu dicirikan sebagai:

(a) sesuatu yang tidak disukai adanya,

(b) suatu yang ingin dihilangkan

(c) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian

Maka upaya pengentasan masalah klien melalui konseling individu akan mengurangi intensitas ketidaksukaan atas keberadaan sesuatu yang dimaksud atau meniadakan keberadaan sesuatu yang dimaksud atau bisa jadi mengurangi intensitas hambatan kerugian yang ditimbulkan oleh suatu yang dimaksudkan itu. Dengan layanan konseling individu beban klien diringankan, kemampuan klien ditingkatkan, potensi klien dikembangkan. Tujuan umum layanan konseling individu adalah pengentasan masalah klien dengan demikian, fungsi pengentasan sangat dominan dalam layanan ini.

2.      Tujuan Khusus

Dalam kerangka tujuan umum itu, tujuan khusus layanan konseling individu dapat dirinci dan secara langsung dikaitkan dengan fungsi-fungsi konseling yang secara menyeluruh diembannya, antara lain:

a.       Melalui layanan konseling individu klien memahami seluk-beluk masalah yang dialami secara mendalam dan komprehensif, serta positif dan dinamis (fungsi pemahaman).

b.      Pemahaman itu mengarah kepada dikembangkannya persepsi dan sikap serta kegiatan demi terentaskannya secara spesifik masalah yang dialami klien itu (fungsi pengentasan). Pemahaman dan pengentasan masalah merupakan fokus yang sangat khas, kongkrit dan langsung ditangani dalam layanan konseling individu.

c.       Pengembangan dan pemeliharaan potensi klien dan berbagai unsur positif yang ada pada dirinya merupakan latar belakang pemahaman dan pengentasan masalah klien dapat dicapai (fungsi pengembangan atau pemeliharaan). Bahkan, secara tidak langsung, layanan konseling individu sering kali menjadikan pengembangan atau pemeliharaan potensi dan unsur-unsur positif klien sebagai fokus dan sasaran layanan.

d.      Pengembangan atau pemeliharan potensi dan unsur-unsur positif yang ada pada diri klien, diperkuat oleh terentaskannya masalah, akan merupakan kekuatan bagi tercegah menjalarnya masalah yang sekarang sedang dialami itu, serta (diharapkan) tercegah pula masalah-masalah baru yang mungkin timbul (fungsi pencegahan).

e.       Apabila masalah yang dialami klien menyangkut dilanggarnya hak-hak klien sehingga klien teraniaya dalam kadar tertentu, layanan konseling individu dapat menangani sasaran yang bersifat advokasi (fungsi advokasi). Melalui layanan konseling individu klien memiliki kemampuan untuk membela diri sendiri menghadapi keteraniayaan itu. Kelima sasaran yang merupakan wujud dari keseluruhan fungsi konseling itu, secara langsung mengarah kepada dipenuhinya kualitas untuk keperikehidupan sehari-hari yang efektif (effective daily living).

Gabungan capaian tujuan umum dan tujuan khusus yang dapat diraih melalui layanan konseling individu memperlihatkan betapa layanan konseling individu dapat disebut sebagai “jantung hatinya” seluruh pelayanan konseling. Dengan kemampuan layanan konseling individu, konselor dapat menjangkau keseluruhan daerah pelayanan konseling.

C.    Teknik Konseling Individu

Pengembangan proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan. Teknik-teknik tersebut meliputi:

1.      Kontak mata

2.      Kontak psikologis

3.      Ajakan untuk berbicara

4.      Tiga M (mendengar dengan cermat, memahami secara tepat, merespon secara tepat dan positif)

5.      Keruntutan

6.      Pertanyaan terbuka

7.      Dorongan minimal

8.      Refleksi (isi dan perasaan)

9.      Penyimpulan

10.  Penafsiran

11.  Konfrontasi

12.  Ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain

13.  Peneguhan hasrat

14.  “Penfrustrasian” klien

15.  Strategi “tidak memaafkan klien”

16.  Suasana diam

17.  Transferensi dan kontra-transferensi

18.  Teknik eksperiensial

19.  Interprestasi pengalaman masa lampau

20.  Asosiasi bebas

21.  Sentuhan jasmaniah

22.  Penilaian

23.  Pelaporan

Penerapan teknik-teknik tersebut di atas dilakukan secara eklektik, dalam arti tidak harus berurutan satu persatu yang satu mendahului yang lain, melainkan terpilih dan terpadu mengacu kepada kebutuhan proses interaksi efektif sesuai dengan objek yang direncanakan dan susana proses pembentukan yang berkembang. Kontak psikologis dibina sejak awal-awal proses layanan yang di dalamnya ada ajakan untuk berbicara, selanjutnya berkembanglah interaksi intensif antara klien dan Konselor melalui pertanyaan terbuka, refleksi, penyimpulan, penafsiran, yang kadang-kadang (sesuai dengan keperluan) diselingi konfrontasi, ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain, dan peneguhan hasrat. Dalam pada itu, kontak mata, tiga-m, keruntutan dan dorongan minimal selalu mewarnai dan menyertai seluruh dinamika interaksi.

Teknik “menfrukstrasikan” dan strategi “tiada maaf” hanya digunakan secara benar-benar terpilih untuk membangkitkan dan menyadarkan klien akan tantangan yang harus ia hadapi serta meninggikan motivasi dan semangat dalam memasuki dan menggapai kesempatan yang terbuka. Kedua teknik ini, dan juga teknik konfrontasi,  seringkali diikuti oleh “suansana diam”.

Teknik berkenaan dengan transferensi dan kontra-tranferensi dapat dimunculkan dalam proses layanan dengan kontak psikolgis yang benar-benar intens. Intensitas proses layanan dapat ditempuh lebih jauh melalui teknik-teknik eksperimensial, analisis pengalaman masa lampau, dan asosiasi bebas. Teknik-teknik yang disebut terakhir ini hanya dilakukan untuk keperluan pendalaman yang khas sesuai dengan permasalahan klien. Untuk pendalaman yang dimaksudkan itu, dan untuk memberikan nuansa yang lebih bersifat afektif, sentuhan jasmaniah dapat dilakukan. Proses layanan konseling individu diakhiri dengan kegiatan penilaian dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap kali sesi layanan konseling individu, khususnya untuk kegiatan penilaian segera.

D.    Prosedur Pelaksanaan Konseling Individu

Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).

1.      Tahap Awal

Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya:

a.       Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling terutama azas kesukarelaan, keterbukaan, kerahasiaan dan kegiatan.

b.      Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.

c.       Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.

d.      Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi:

1)      Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan.

2)      Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien.

3)      Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.

2.      Inti (Tahap Kerja)

Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya:

a.       Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.

b.      Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.

c.       Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terjadi jika:

1)      Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

2)      Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar-benar peduli terhadap klien.

3)      Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.

3.      Akhir (Tahap Tindakan)

Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:

a.       Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.

b.      Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.

c.       Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).

d.      Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya.

Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu:

a.       Menurunnya kecemasan klien

b.      Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis

c.       Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya

d.      Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

E.     Skenario Studi Kasus Konseling Individu

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

1.      Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (klien).

2.      Tujuan umum layanan konseling individu adalah terentasnya masalah yang dialami klien.

3.      Pengembangan proses layanan konseling individu oleh konselor dilandasi oleh dan sangat pengaruhi oleh suasana penerimaan, posisi duduk, dan hasil penstrukturan. Lebih lanjut, Konselor menggunakan berbagai teknik untuk mengembangkan proses konseling individu yang efektif dalam mencapai tujuan layanan.

4.      Proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).

DAFTAR PUSTAKA

Sukardi. (1993). Proses Bimbingan dan Penyuluhan. Tabanan: Rineka Cipta.

Sukardi. (1996). Pengantar Pelaksanaan BK di Sekolah. Tabanan: Rineka Cipta.

Winkel. (1978). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.

Winkel. (1978). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

http://robikanwardani.blogspot.com/2012/10/layanan-konseling-individu.html

About Mr. Arda

I'm single and very happy

Posted on 6 Mei 2013, in Layanan Bimbingan dan Konseling, Pendidikan, Tugas TI and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: